aku dilahirkan sebagai seorang anak pejuang
dahulu ayahku adalah seorang pejuang
berjuang demi mempertahankan negeri ini dari penjajahan
mempertahankan sang merah putih agar tetap berkibar,
berkibar diatas tiang bambu kuning,yang tertancap di halaman rumah ku
rentettan tembakan menerjang ayah,ayah bermandikan darah
sang merah putih tetap berkibar walau tersiram darah ayah
tiang bambu kuning tetap berdiri tertancap walau ayah tewas


hari ini aku tak mendengar orang mati membela negara
tapi sang merah putih masih tetap berkibar
walau hanya setahun sekali, didepan rumah ini
aku tidak akan bisa seperti ayah
mengorbankan nyawa demi sang merah putih demi negeri yang indah ini
karena jiwaku serasa mati kaku tanpa daya

kini negeri ini telah merdeka
tidak ada penjajah, yang menjajah negeri ini
sekarang penjajah tidak seperti dahulu
angkat senjata, tembak mati ayah
kini penjajahlah, yang menjadi jiwa bangsaku
rasa nasionalisme terbuang jauh
terbungkus rapi,tersimpan dalam peti mati
penjajah telah merenggut jiwa bangsa ini
hingga jatuh tersungkur tak punya malu

terkadang aku kalah,aku terjajah
karena aku bukan ayah yang punya jiwa merah putih
demi sang merah putih ayah mati
demi perut bangsa ini ayah mati
kini yang terjadi lindas sana lindas sini
biarpun bangsa, bangsa sendiri
asal aku tidak mati seperti sang ayah

kini apakah kita bisa seperti ayah?
punya jiwa merah putih
merah yang berani, demi bangsa dan negara
putih yang suci, demi kebenaran dan keadilan
kapan aku punya jiwa seperti ayah
walau sedikit akan menjadi bukit
hingga aku benar-benar anak seorang pahlawan

artikel terkait :

Syuhada

para penghuni syurga

semestapun kehilangan pelita terindahnya

kisah hidup seorang putra khalifah

kelak anggota tubuh kitalah yang bicara